NVIDIA Jetson Nano Developer Kit – Part 1

, , 1 Comment

Halo selamat datang kembali di andidinata.com. Saat ini saya melakukan review Jetson Nano Developer Kit, yaitu sebuah embedeed system on module (SOM) buatan merek GPU ternama, NVIDIA. Dan board ini saya beli dengan dana pribadi, jadi tidak ada asosiasi dengan distributor atau produsen.

Jetson bukanlah nama baru dalam platform AI. Sudah ada beberapa platform yang diperkenalkan, sebut saja Jetson AGX Xavier, Jetson TX dan Jetson TX2. Dari segi harga modul-modul tersebut tidak terjangkau bagi developer/hobbyist yang ingin mempelajari atau mengembangkan AI. Dan tahun ini NVIDIA memperkenalkan Jetson Nano sebagai varian dengan harga yang lebih terjangkau tapi masih mengusung keunggulan Jetson, yaitu AI dengan GPU processing.

Ketertarikan saya dengan Jetson Nano sebenarnya saat pertama kali mulai ramai dibahas pada bulan Maret 2019 yang lalu dan yang sempat juga diperbincangkan dalam group Facebook Raspberry Pi Indonesia, namun kesempatannya tersebut baru tiba diakhir Agustus 2019 yang lalu saat Seeed Studio memberikan free delivery untuk pembelian Jetson Nano Dev Kit. Setelah kurang lebih tiga minggu menunggu, akhirnya kiriman tersebut tiba di pertengahan September 2019 ini.

Langsung saja kita bahas tanpa sesi boring unboxing dalam foto-foto tour Jetson Nano Developer Kit jepretan sendiri (kalau mau ambil picturenya, jangan lupa referensi ke blog ini).

Kemasannya unik dan bentuknya kokoh, tidak seperti normalnya Raspberry Pi yang terbuat dari kertas karton tipis mirip kotak kartu remi. Kotak hijau ditarik menyamping untuk membuka. Kemasan ini terdiri dari Jetson Nano Dev Kit, quick user guide dan karton penyangga yang berguna sebagai dudukan. Box yang kokoh bisa digunakan sebagai alas.

 

Jetson Nano berbentuk modul SODIMM yang ditempel dengan passive heatsink yang cukup besar. Modul dan heatsink tersebut duduk diatas slot 260 Pin yang sudah diskrup rapat ke carrier board. Maaf saya tidak bongkar skrup tersebut untuk memperlihatkan modul Jetson Nano dengan lebih jelas dan juga apa yang ada dibawah modul tersebut yang sebenarnya ada satu port extension yaitu M.2 Key E slot untuk wireless networking. Kokoh dan berat adalah kesan pertama saat mengangkat Jetson Nano Dev Kit ini.

 

Sisi samping yang menghadap kita, terdapat 40 pin GPIO yang layoutnya menyerupai Raspberry Pi. Untuk kepraktisan, label GPIO dicetak diatas PCB sehingga nantinya memudahkan kita tanpa harus melirik mapping pin out/kertas contekan GPIO. Disebelahnya terdapat 4 Pin untuk PoE. Port micro USB yang bisa digunakan sebagai power input 5V/2A sekaligus USB-Host jika kita ingin mengoperasikan Jetson Nano headless. Jika diperhatikan lebih seksama, PCB juga punya dudukan USB C. Entah apakah memang board ini nantinya akan dipasarkan dengan varian USB C.

 

Pada sisi sebrang yang saat ini berada disebelah kanan gambar terdapat beberapa port. Yaitu power input barrel jack yang memungkinkan untuk diberi input 5V/ 4A saat kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang butuh energi ekstra. Saat menggunakan barrel jack, jumper harus dipakai untuk memberi tahu bahwa sumber daya berasal dari barrel jack, bukan USB. Setelahnya ada camera port yang kompatibel dengan Raspberry Pi Camera V2. Tambahan camera port ini adalah input dari pengguna Jetson yang menginginkan kompatibilitas dengan hardware yang lebih dikenal sebelumnya. Pin header setelahnya adalah UART untuk komunikasi serial. Disamping nya terdapat pin untuk dihubungkan dengan push button sebagai power on, reset dan recovery mode.

 

Pada sisi depan, Jetson Nano Dev Kit memiliki port gigabit ethernet, 4x USB 3.0 dan dual display dengan port HDMI ukuran standard dan Display Port (video only) yang dapat menampilkan video 4K dan barrel jack 5.5mm OD x 2.1mm ID x 9.5mm length.

 

Ukuran heat sink cukup besar untuk mendinginkan CPU quad core dan GPU Tegra. Heatsink dilengkapi dengan mounting fan 40 mm yang terkoneksi dengan temperature controlled fan. Meskipun ada stiker panas, temperatur Jetson berkisar 58 celcius. Baca ulasan review temperatur (link dibagian bawah) antara passive vs. fan cooling saat normal vs. thermal-throttle saat mengolah inference.

 

Micro sd card tidak ada di carrier board tapi di modul Jetson Nano dengan cara push-in push-out. Image Jetson SDK setelah flashing akan menempati 12 GB. Jadi meskipun 16 GB bisa digunakan, space 4 GB sisanya akan membatasi instalasi inference, dan pre-trained model. Jadi disarankan minimal 32 GB. Saya menggunakan Sandisk 64 GB.

 

Sisi bawah dari board masih ada beberapa test pad tapi tidak banyak. Dan kepraktisan masih diperhatikan disini dengan dimana test pads masih diberi label yang readable sehingga tidak perlu bolah-balik ngintip pinout / test pad mapping. J45 sepertinya bisa diberi battery untuk RTC.

 

Jetson Nano tidak memiliki wifi dan bluetooth on-board seperti Raspberry Pi atau Asus Tinkerboard. Jadi perlu kabel ethernet untuk terhubung dengan internet. Untuk mengoperasikan Jetson Nano perlengkapan cukup serupa dengan SBC pada umumnya, yaitu monitor HDMI dan keyboard & mouse. Hanya ada satu led yang menyala untuk indikasi power, tidak ada led activity seperti pada SBC pada umumnya.

 

Jetson Nano SDK berukuran 12 GB karena sudah selain image OS Ubuntu 18.04 atau yang disebut L4T (=Linux For Tegra), di dalamnya juga terdapat TensorRT, cuDNN, CUDA, Multimedia API, OpenCV 3.3, CUDA Toolkit. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa saya memilih Jetson Nano ketimbang menghabiskan waktu (dan juga frustasi) untuk setup PC, Linux terlebih lagi Raspberry Pi agar bisa mendalami topik Machine Learning.

Demikian akhir dari Part-1 review Jetson Nano Developer Kit. Mohon dukungannya untuk memberikan like, share subscribe blog ini agar saya dapat menuliskan lebih banyak lagi artikel-artikel mendatang. Dan nantikan Part-2 untuk post installation dan testing. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Link:

“https://www.phoronix.com/scan.php?page=article&item=jetson-nano-cooling&num=1”

 

Facebook Comments
 

One Response

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.