Quadcore Showdown

, , Leave a comment

Halo selamat datang kembali di andidinata.com. Sudah lama saya ingin melakukan ini, tapi baru sekarang bisa terwujud, yaitu melakukan benchmark antar SBC yaitu ASUS Tinkerboard, ASUS Tinkerboard S, Tritium 2G dan raja SBC yaitu Raspberry Pi 3B dan Raspberry Pi 2B. Berikut ini adalah spec masing-masing komputer.

Saya menggunakan sysbench sebagai program untuk melakukan benchmark. Ada dua hal yang akan dibandingkan yaitu CPU dengan cara mengukur kecepatan keempat core dalam menyelesaikan tugas untuk menghitung bilangan prima sebesar 50000. Hal kedua adalah FileIO untuk mengetahui kecepatan transfer data pada saat melakukan process read dan write dari test file yang berukuran 1GB.

Metode Pengujian

  1. Dalam melakukan testing, kelima SBC tersebut menggunakan micro sd card yang sama yaitu Sandisk Ultra 16GB Class 10 kecuali Tinkerboard S yang menggunakan internal flash memory sebesar 16GB.
  2. Setiap testing dilakukan dalam desktop environment masing-masing sistem
  3. Setiap testing dijalankan dalam terminal dengan satu tab Chrome terbuka untuk mencatat hasil pengujian dalam google spreadsheet
  4. Power supply kelima board tersebut adalah sama 2.1 A
  5. CPU berjalan settingan normal, tidak ada overclock

Perintah berikut ini yang saya gunakan untuk melakukan pengujian dengan sysbench. Lakukan instalasi sysbench terlebih dahulu apabila belum

sudo apt-get update
sudo apt-get install sysbench

sysbench --test=cpu --cpu-max-prime=50000 --num-threads=4 run
sysbench --test=fileio --file-total-size=1G prepare
sysbench --test=fileio --file-total-size=1G --file-test-mode=rndrw --init-rng=on --max-time=300 --max-requests=0 run
sysbench --test=fileio --file-total-size=1G cleanup

CPU Benchmark

Semakin kecil waktu yang dibutuhkan oleh keempat core dari masing-masing sistem, maka semakin cepat sistem tersebut menyelesaikan sebuah tugas. Dengan kata lain, sebuah program dapat dijalankan dengan cepat atau lambat dapat dilihat dari score CPU Benchmark.

Tritium 2G yang menggunakan Allwinner H5 meninggalkan jauh sistem lainnya secara signifikan. Hal ini sejalan dengan kecepatan untuk membuka program di Tritium, baik itu office, web browser, file explorer, booting dan shutdown process.

Raspberry Pi 2 memang sistem komputasi yang paling kecil diantara semua sistem, oleh karena itu wajar jika keempat core Pi2 baru bisa menyelesaikan tugas hampir 10 menit. Di lain pihak kedua produk ASUS dapat dengan bangga mengukuhkan klaim bahwa Rockchip 3288 mereka memang lebih cepat dari Raspberry Pi 3B hampir 25%. Sedangkan, diantara ASUS, generasi Tinkerboard S (S=Speed) memang lebih cepat, meskipun hanya menang tipis dari varian sebelumnya yang direlease kuartal pertama 2017 tersebut. Namun sayang, ASUS Tinkerboard harus tunduk dihadapn Tritium 2G yang 10x lebih cepat meskipun kedua merek ini dibekali dengan RAM sebesar 2 GB.

File IO Test

File transfer yang besar membuat sebuah sistem dapat menampung request read/write dalam jumlah yang besar per satuan waktunya. Semakin besar data yang bisa transfer, maka semakin cepat proses untuk menulis/hapus sebuah data yang berasal dari dalam menuju keluar maupun sebaliknya. Dengan kata lain, memindahkan sebuah file akan terasa lebih cepat jika sebuah sistem memiliki hasil score testing yang tinggi.

Hasil pengujian diatas sangat mengejutkan karena Raspberry Pi 2 bisa lebih cepat dari pada penerusnya yaitu Pi 3. Hal ini sejalan dengan pengalaman saya saat hendak mengcopykan sebuah file film yang didownload dari Pi3 ke media USB. Prosesnya sangat lama untuk ukuran 1 GB (30-40 menit) dan terkadang hasilnya copynya corrupt, alias film tidak dapat dimainkan. Contoh lain adalah saat mengcopykan ROM (file game) PSP ke dalam dari USB ke retropie yang berjalan diatas Pi 3, prosesnya juga lama. Bagi kedua keluarga ASUS, memang ASUS Tinkerboard S yang memiliki integrated flash 16GB menunjukkan keberhasilannya untuk mendongkrak kecepatan transfer file sehingga menjadi yang tercepat dari semua sistem. Dan yang terakhir Tritium 2G ternyata kembali membuat kejutan dengan menghasilkan score yang tinggi, hampir mendekati ASUS Tinkerboard S padahal Tritium 2G masih menggunakan micro sd card. Score yang tinggi pada Tritium 2G memang bisa dirasakan pada saat memindahkan file movie ukuran 1GB yang rampung dalam waktu 4-5 menit.

Screen capture dari pengujian masing-masing sistem bisa dilihat dibawah ini:

Raspberry Pi 2B

 

Raspberry Pi 3B

 

Tritium 2G

 

Asus Tinkerboard

 

Asus Tinkerboard S

Beberapa pengamatan lain juga saya catat yaitu saat CPU benchmark berlangsung, CPU load menjadi 100% sehingga tanda temperatur warning terlihat pada Raspberry Pi 3. Namun hal ini tidak terjadi pada Raspberry Pi 2. Besar kemungkinan karena clock Pi 2 hanya di 3/4 dari Pi 3 yang ada di 1.2 GHz. Untuk itu jika kita menggunakan Raspberry Pi 3 untuk tugas yang berat misalnya image processing atau computer vision, tidak ada salahnya untuk memberikan cooling system, passive oke namun active akan menghasilkan efek yang lebih baik.

Kesimpulan

Quadcore processor adalah nama marketing umum yang membentuk perspektif bahwa sesuatu yang menggunakannya akan memiliki tenaga yang besar, dan selalu dikatakan lebih cepat dari pendahulu dan pesaingnya. Namun clock speed dan instruction set (ARMv7 dan ARMv8) dari masing-masing SOC (=system on chip) juga memberikan pengaruh besar terhadap klaim performance dari sistem/board yang sedang kita gunakan atau ditawarkan. Untuk aplikasi IoT, quadcore mungkin justru dihindari karena konsumsi energi yang lebih tinggi daripada single core tapi untuk aplikasi Artifical Intelligence (Machine Learning/Deep Learning/Cognitive Learning), processing power memegang peran penting. Jika kita hendak menggunakan SBC sebagi file/media server, maka pertimbangkan score FileIO nya, karena menentukan seberapa banyak request file read/write yang akan diterima dari server ke client dengan lancar.

Asus Tinkerboard S dengan onboard flash memory dan Tritium 2G dengan optional eMMC module, sudah mengarah ke masa depan SBC yaitu media penyimpanan yang terintegrasi. Menurut saya board yang seperti ini nantinya akan lebih banyak diminati, saya harap Raspberry Pi 4 juga mengarah kesana.

Sekian ulasan dari saya tentang perbandingan 5 single board computer yang memiliki 4 buah core processing untuk membantu menyelesaikan perintah-perintah dengan lebih cepat. Terima kasih, semoga bermanfaat dan memberikan pengetahuan. Mohon dukungannya untuk memberikan like, share dan subscribe blog ini apabila belum.

Sampai berjumpa kembali pada tulisan berikutnya.

Facebook Comments
 

Leave a Reply