First Impression: ASUS Tinker Board

, , 3 Comments

Saya sangat senang karena bisa mendapat kesempatan untuk berhadapan langsung dengan ASUS Tinker Board, yaitu sebuah SBC (=Single Board Computer) yang diluncurkan oleh ASUS pada bulan February 2017 yang lalu. Di Indonesia sendiri, board ini belum resmi didistribusikan. Board ini pertama kali di luncurkan di London, UK (markas besar Raspberry Pi) dan 3 bulan kemudian, Mei 2017, board ini mulai bisa dibeli di AMAZON. ASUS Tinker Board mungkin menjadi pesaing tangguh dari Raspberry Pi jika dilihat dari spec hardwarenya. Tapi kita akan lihat dalam perjalanan waktu apakah ASUS Tinker Board dapat memberikan persaingan yang sengit.

Pada bagian awal review ini saya mengajak untuk melihat Asus Tinker Board ini dari dekat, mengetahui spec hardware dan beberapa fitur andalannya. Setelah menelusuri beberapa informasi dengan lebih teliti, saya teringat falsafah Cina yang juga diterapkan oleh salah satu Taipan Properti di Indonesia dalam buku biografinya. “Kejarlah kuda dengan menunggang kuda”. Filsafat inilah yang saya rasakan sedang diterapkan oleh ASUS. ASUS sedang menunggang kuda yang diberi Super Charger berusaha mengejar pesaing utamanya. Simak berikut ulasannya.

1. Dimensi Fisik

PCB dari ASUS Tinker Board berwarna hitam. Tidak seperti board pada umumnya yang berwarna hijau atau biru. Warna ini memberikan kesan “deep”, “tough”,”macho”. Warna hitam ini membuat semua komponen yang tersusun rapi ini terlihat menonjol. Selain warna, permukaan PCB juga dibuat doff bertekstur, bukan glossy polos sehingga mengesankan tingkat premium bila dibandingkan dengan board sejenis. Selain teks, terdapat juga beberapa icon seperti Keyboard, GPIO, Kamera, Wifi, Audio, Display, 4K. Dimensi totalnya (p x l) adalah 8.5 x 5.4 cm. Mirip dengan dimensi Raspberry Pi Model 2/3 Model B (p x l ) 8.5 x 5.6 cm.

ASUS Tinker Board menggunakan mouting hole yang lebih standar dengan diameter 3.2 mm jika dibandingkan dengan Raspberry Pi yang berdiameter 2.9 mm. Dengan mounting hole yang standar, kita dapat dengan mudah mencari dan memasang spacer yang umum ditermukan di Indonesia. Tidak hanya mounting hole yang standar, mounting area diberi grip agar tidak mudah selip.

2. Hardware

ASUS Tinker Board mengunakan SoC (=System on Chip) Rockchip RK3288 yang menggunakan prosesor ARM Cortex A17 quadcore 1.8 GHz dan GPU Mali -T764 600MHz. CPU dan GPU ASUS Tinker Board sama dengan yang digunakan di berbagai varian Asus Chromebook yg menjalankan Chrome OS dan juga Android TV Box. Rockchip RK3288 SoC memungkinkan board ini untuk menampilkan video encoding 1080p dan 4K, dan mensupport dual-channel DRAM DDR3.

Baca tentang pengujian 4K ASUS Tinker Board

Saya tidak tampilkan komplit hardware spec, karena bisa dilihat sendiri dari website resmi ASUS. Tapi saya berikan sedikit tour tentang chip yang ada di layer atas dan bawah dari Asus Tinker Board, agar kita lebih mengenal. Layout board ini pada umumnya sangat mirip dengan Raspberry Pi 2/3. Mulai dari penempatan USB port, LAN, Audio jack, Camera & Display Interface, HDMI port, GPIO pin sampai micro usb untuk power. Ini adalah kemiripan No. 2 yang saya yakin ada filosofinya mengapa dibuat demikian mirip.

ASUS menyertakan heatsink yang besar dalam paket penjualannya. Dapur pacu yang kencang memang akan menghasilkan lebih banyak panas. Apakah ASUS Tinker Board dapat dioperasikan tanpa heatsink? Baca ulasan khusus profil temperatur Tinker board.

Ada 5 chip yang terlihat di layer atas board ini, berikut ini masing-masing chip tersebut antara lain:

Pertama, chip RTL 8723BS. Chip ini bertanggung jawab untuk wireless connection. Didalamnya terdapat integrated WiFi 802.11 b/g/n dan Bluetooth 4.0 dan Bluetooth Low Energy. Antena dari wireless terlihat melengkung yang mungkin bisa diganti-ganti.

 

Kedua chip GL8526. Chip Genesyslogic ini bertanggung jawab sebagai controller 4 USB 2.0 HUB. Sayang sekali tidak ada USB 3.0 di ASUS Tinker Board seperti yang digunakan di Latte Panda. USB 3.0 ini, mungkin tidak banyak berperan kalau board ini digunakan untuk DIY projects. Tapi jika digunakan sebagai  photo printing station atau home desktop, USB 3.0 sudah menjadi item yang seharusnya.

Ketiga, chip RTL8211E. Ini adalah chip yang membuat board ini memiliki ethernet gigabit.

Keempat chip ALC4040 yang bertugas untuk menghasilkan audio HD 192K/24bit. Audio jack disini tidak menyertakan video out tapi bisa microphone, menarik untuk dicoba (Baca test microphone dengan google assistant di ASUS Tinker Board).

Kelima adalah chip RK808-B yang bertanggungjawab untuk power management system. Chip ini dapat mengelola input dari 2.7 – 5.5 volt. Untuk input, board ini membutuhkan 5 volt 2.5 Ampere. Saya coba dengan 1 Ampere dan tidak menyala.

Kalau board dibalik, maka kita melihat ada sepasang DRAM DDR3 yang berjumlah total 2 GB dan slot micro SD card. Mekanisme slot micro sd ini sama dengan Raspberry Pi 2, yaitu push in/out. Yang personally saya lebih suka daripada Raspberry Pi 3 karena ada suara ‘klik’ saat micro sd sudah terpasang.

3. I/O

Yang impressive dari deretan 40-pin GPIOnya adalah color-coded. Saya sangat menghargai dengan male header yang diberi warna sesuai dengan fungsi dari masing-masing pin. Karena hal ini sangat membantu baik kalangan pemula maupun expert.

Dan sekali lagi tidak hanya penempatan GPIO pin pada board layout, tapi layout dari GPIO pinnya sendiri sama dengan Raspberry Pi 2/3. Mulai letak 5v dan 3v, ground hingga pin I2C SDA, SCL.

Tapi tunggu, sebenarnya ASUS Tinker Board sebenarnya punya 42 GPIO pin. Dua lagi terletak di antara ethernet port dan usb berupa unheaded-pin. Satu untuk PWM dan S/PDIF. Dari halaman situsnya, terdapat contoh penggunakan Python Library yang sangat mirip dengan RPi.GPIO Raspberry Pi. Sekali lagi, ASUS Tinker Board punya kemiripan bahkan ke level operasionalnya. Saya yakin ini bukan kebetulan. Baca test GPIO Pin ASUS Tinker Board.

4. Camera dan Display interface

ASUS Tinker Board Display Interface adalah standard MIPI DSI  sehingga bisa dipakai dengan LCD Touch Screen 7′ Raspberry Pi. Lagi-lagi ASUS dengan sengaja untuk menggunakan apapun yang sudah didevelop oleh Raspberry Pi. Karena saya tidak memiliki Display 7 inch ini, maka saya tidak punya kesempatan untuk testing. Tapi saya pasti akan mencoba, jika Pi Camera bisa dijalankan juga di sini.

update 24-Sep-2017:

Saya punya kesempatan untuk memiliki Official Raspberry Pi 7″ touchscreen display yang dibeli dengan harga 40% lebih rendah dari harga pasar. Dan saya sudah mencobanya dengan Asus Tinkerboard. Karena layout board yang sama dengan Raspberry Pi, maka tidak ada problem dengan pemasangan/instalasi. Saya yakin kalau casing 3d printed untuk Pi bisa dipakai di Asus Tb.

Pada saat melakukan pengetesan, saya menggunakan android 6.0. Sayang sekali touch screen tidak (mungkin lebih tepatnya ‘belum’) disupport, sehingga berasa useless. Akhirnya android 6.0 saya ganti dengan LUbuntu. Suprisingly, touch screen berfungsi dengan baik. Fungsi seperti tap to select, drag to multiple select berfungsi dengan normal dan akurat. Semua itu dilakukan tanpa menginstall driver dan kalibrasi sama sekali. Diduga kalau driver LCD RPi ini sudah preloaded di image LUbuntu.

Saya juga memiliki dua jenis LCD 3.5 inch, satu dari waveshare (SPI) dan KeDeI (HDMI). Keduanya tidak bisa dijalankan. Driver untuk waveshare tidak disupport.

5. Hardware Hacking

Dalam dunia DIY Electronics, solusi bisa didapatkan dari berbagai macam cara. Keberadaan test pads disisi bawah seperti pada Raspberry Pi memungkinkan kita untuk mengakses interface, sinyal, atau power rails dengan mudah tanpa harus selalu melalui GPIO pin. Setelah saya amati lagi, ternyata ASUS Tinker Board tidak menyediakan test pads di sisi bawahnya. Bagi saya yang suka utak-atik hardware, saya lihat ada loss of potential. Karena user yang terjun di bidang DIY Electronics lebih suka board yang menyediakan banyak opsi untuk mengakses fitur-fitur dari board tersebut.

Ada banyak test pads berlabel “PP” di Raspberry Pi dan tidak satupun di ASUS Tinker Board, bersih.

Untuk mengakhiri tour hardware ini, saya menginstall Tinker OS versi 1.8 untuk melihat seberapa cepat proses cold booting. Sejak power disambungkan dan desktop ready, dari 3x pengukuran, waktu yang dibutuhkankan adalah 9.4 detik. Ini luar biasa cepat untuk fresh install. Temperatur CPU dan GPU berada di kisaran 44-47 oC setelah boot selesai.

Analisa

Kemunculan SBC baru pada umumnya didominasi oleh perusahaan yang bermula dari Kickstarter yang lambat-laun menjadi besar karena produk mereka diterima dengan baik oleh penggunanya. ASUS sebagai produsen besar yang memiliki teknologi, fasilitas dan expertis. Sehingga wajar jika ASUS Tinker Board diawal munculnya langsung membidik Raspberry Pi untuk dikalahkan. Dari serangkaian kemiripan dengan Raspberry Pi jelas menunjukkan bahwa ASUS ingin mengkonversi pengguna Raspberry Pi menjadi pengguna Tinker Board dimulai dengan familiarisasi dari bentuk yang kelihatan (hardware) sampai yang tidak kelihatan (Python libraray untuk GPIO), termasuk share-use accessories Pi dengan Tinker seperti casing, display dan camera (red. masih asumsi, butuh di tes). Menurut saya ini langkah strategis sehingga saat pengguna berpikir untuk convert, tidak perlu beli apa-apa lagi (sense of simplicity, lowest investment). Coba bandingkan jika seorang fotografer convert dari Nikon menjadi Canon atau Sony mereka perlu merubah segalanya, mulai dari body kamera, lensa, filter, battery grip dan segala asesoriesnya. Spec hardware yang lebih tinggi dari Raspberry Pi memang seharusnya dilakukan karena jika tidak tampil lebih, maka tidak akan mendapat atensi dari calon market.

Satu poin yang saya sedikit sesalkan adalah harga dari ASUS Tinker Board yang hampir 2x dari Raspberry Pi 3. Karena jika dilihat spec SoCnya (Rockchip RK3288), item ini adalah termasuk item generic di pabriknya. Karena juga dipakai di Chromebook bikinannya. Sehingga price materialnya harusnya lebih rendah. Kedua, harga itu terlalu tinggi kalau melihat ASUS melakukan produksi sendiri dipabrik sendiri. Kalaupun assembly dilakukan di 3rd party seperti FOXCONN, itu juga 3rd party yang juga menghandel produk-produk dia. Ketiga, jalur distribusi ASUS Tinker Board harusnya juga lebih standard karena mereka sudah memiliki agen distribusi. Jadi menurut saya retail price ASUS Tinker Board seharusnya bisa lebih rendah lagi (walaupun tidak sama dengan Pi 3). Dengan harga yang lebih rendah misalnya 45-50 USD maka akan lebih menarik minat orang untuk mencoba, mendevelop sesuatu dan berpikir untuk pindah.

Kesimpulan

ASUS Tinker Board menurut saya tetap punya pesona yang kuat, suka atau tidak. Gebrakan mereka berhasil menarik perhatian. Dan saya akan melakukan banyak testing dengan board ini. Persaingan yang ketat antar produsen selalu menguntungkan pihak konsumen. Tapi ada satu resep yang ASUS tahu dan mungkin sudah dipahami sebagai critical success factor dari produk pertamanya ini, yaitu bagaimana mendapatkan dukungan dari komunitas. Raspberry Pi memang memiliki hardware yang lebih pelan, tapi dukungan dari para developer, perusahaan raksasa IT (seperti Google, Microsoft) dan komunitas penggunanya membuat Raspberry Pi selalu diminati dan popular dan sebenarnya ini juga yang membuat saya tertarik dengan Raspberry Pi dan selalu antusias. Hingga ASUS Tinker Board memiliki dukungan komunitas yang kuat seperti itu, essentially, mereka masih dibelakang Raspberry Pi. Saya lihat sudah ada komunitas Tinker Board (www.tinkerboarding.co.uk) yang mulai ramai. Saya harap komunitas ini makin berkembang seiring dengan mulai banyaknya board ini tersedia di berbagai negara termasuk Indonesia tercinta dengan harga yang tidak semahal itu.

 

Terima kasih sudah membaca review ini, semoga memberi manfaat. Silahkan like, share dan subscribe untuk posting tentang Tinker Board selanjutnya.

Facebook Comments
 

3 Responses

    • admin

      July 30, 2017 3:36 pm

      halo dandi, ASUS Tinker Board belum dipasarkan secara resmi di Indonesia. Kalau ingin tahu lebih banyak ttg ASUS Tinker Board, di blog ini memuat banyak review dari berbagai macam sisi.

      Reply

Leave a Reply