ASUS Tinker Board 4K Test

, , Leave a comment

Salah satu selling point ASUS Tinker Board adalah kemampuannya untuk menampilkan video dengan resolusi 4K. Dari semua publikasi, berita dan reviewer, mereka membicarakan 4K dari device yang sekecil ini. Saya pun juga penasaran apakah memang Tinker Board dapat memainkan video 4K. Saya lakukan pengujian video output paling advanced dikelasnya ini dengan menggunakan layar TV Samsung 40 inch 4K (UA40JU6000).

Saat kabel HDMI terpasang maka Tinker Board otomatis mengambil resolusi maksimum dari display yang digunakan. Hasilnya, untuk pertama kalinya saya melihat desktop dengan resolusi yang sangat tinggi. Resolusi yang tercatat sebagai 3840×2160 ini menghidangkan ruang kerja/workspace terasa sangat luas. Icon terlihat kecil dipojok kanan atas dan taskbar terlihat seperti sebuah garis tipis dibawah layar dan saya kesulitan mencari dimana pointer mouse saya.

Di area kerja yang sangat luas seperti ini saya juga mulai untuk membiasakan diri kembali karena seketika saja sensitivitas mouse terasa kurang berkurang. Yang biasanya sekali geser sudah nyampe, ini mesti beberapa kali hingga pointer pas menuju sasaran. Kedua, mata saya juga makin lelah, karena otot-ototnya bekerja lebih keras untuk mencari dimana tombol menu atau posisi kursor. Mungkin ini karena faktor usia juga ditambah faktor kebiasaan bekerja di resolusi HD yang tiba-tiba disuguhi Ultra HD, kaget intinya.

Untuk area desktop sebesar ini, saya lihat potensi yang besar untuk melakukan multitasking dengan nyaman karena semua window yang terbuka bisa diparkir seri (berjajar) dan bukannya paralel (ditumpuk).

ASUS Tinker Board mensupport video 4K@30fps/full HD@60fps (H.264/H.265). Video playback disupport oleh player bawaan. Bentuk tampilannya sangat sederhana. Jauh dari kesan player modern. Player ini hanya menjalankan dua tugas pokok saja, yaitu memutar video dan audio. ASUS menyebutnya RK Player karena merupakan join development antara ASUS dan Rock Chip.

Player ini tersembunyi di menu Sound & Audio > Media Player. Player ini mulai ditambahkan ke Tinker Board versi 1.6 dan baru dibuatkan shortcut ke menu pada versi 1.8. Sebelum ada shortcut kita harus mengaksesnya dari terminal

/usr/lib/arm-linux-gnueabihf/qt5/examples/multimediawidgets/player$ ./player

Setelah ada shortcut, RK Player dapat ditemukan di menu Audio & VIdeo > Media Player


VLC Player

Pada awalnya saya tidak percaya dengan RK Player yang sederhana ini. Saya langsung menginstall VLC dan KODI untuk mencoba memainkan video ELYSIUM yang berdurasi 1 menit (400MB). Hasilnya mengecewakan, VLC tidak mampu memainkan file 4K di Tinker Board. Video langsung terhenti di detik pertama.

Player VLC. TImeline bar sudah bergerak jauh tapi video masih di detik-detik awal dan berhenti. CPU load (kanan bawah) sudah full.

 

Kodi (v17 Krypton)

Sedikit berbeda dengan VLC, KODI masih berusaha untuk memainkan video 4K. Namun apa daya karena KODI hanya mensupport software acceleration di Tinker Board, maka muncul simbol “loading”, karena CPU sedang ngos-ngosan untuk mensupply image untuk diputar. Alhasil, KODI tidak bisa menyuguhkan video 4K. Dalam presentasinya, pihak ASUS mengatakan bahwa sedang bekerja sama dengan KODI untuk menambahkan hardware acceleration di waktu mendatang. Dengan hardware acceleration, maka power GPU Mali T764 600 MHz dapat digunakan.

Player KODI. Buffering bukan dari internet, tapi dari local

Baik VLC dan KODI, keduanya menggunakan software acceleration, oleh karena itu saat video dimainkan, CPU load mendadak menjadi 100% dan temperatur CPU melonjak dari kisaran 55 oC menjadi 70oC.

RK-Player

Karena kecewa dengan third-party player, saya mencoba player sederhana yang disebut sebagai RK Player. RK Player baru ditambahkan di Tinker OS versi 1.6 ini memberikan hasil yang cukup memuaskan dibandingkan dengan player-player sebelumnya. Simak video berikut ini:


Menurut saya, hanya RK player yang menggunakan hardware acceleration dari GPUnya. Beberapa indikator yang mendukung dugaan saya yaitu CPU load yang rendah, tidak sampai 20% dan temperatur CPU yang berkisar 54-56oC saja. Suara yang keluar juga bagus, tidak terpatah-patah. Namun mengapa sebelumnya saya bilang cukup memuaskan? bukan memuaskan?. Karena, jika dilihat dengan mata langsung frame video tidak smooth meskipun file video sudah sesuai yaitu 4K 30fps. Hal ini selaras dengan informasi dari ASUS bahwa saat ini player ini memiliki keterbatasan transfer rate dikisaran 20-25 MB/s

You Tube 4K

Satu player terakhir yaitu You Tube. Video yang dimainkan di youtube 4k 30fps juga tidak selancar RK Player dan suara terpatah-patah.

Kesimpulan

ASUS Tinker Board memang bisa memainkan video 4K seperti yang menjadi selling pointnya. Namun bukan berarti semua sudah ready melainkan masih dalam tahap pengembangan. Beruntung bagi saya, testing yang saya lakukan ini sudah dengan Tinker OS versi 1.8 yang baru mengupdate 4K player ini. Sebelum versi ini, tidak banyak yang bisa dilihat dari review 4K.

Deskripsi rilis Tinker OS 1.8

Saya menilai ASUS serius dalam menggarap 4K sebagai fitur utama di SBC pertamanya ini. Saya menantikan di versi-versi Tinker OS mendatang yang memberikan banyak support pada 4K, utamanya hardware acceleration support ke player-player modern seperti VLC, KODI dan Youtube sehingga cakupan/opsi aplikasinyapun menjadi lebih luas misalnya live streaming 4K video via network dalam sebuah project science untuk mengamati perilaku serangga dengan lebih jelas dan detil.

Semoga informasi ini memberikan pengetahuan dan bermanfaat. JIka suka dengan tulisan ini, berikan comment, like, share dan subscribe blog ini. Terima kasih.

 

Source:

“https://www.asus.com/uk/Single-Board-Computer/Tinker-Board/HelpDesk_Download/”

Facebook Comments
 

Leave a Reply